Menjelang Piala Dunia 2026, perhatian publik sepak bola dunia mulai tertuju pada proses penjualan tiket. Skotlandia, yang akhirnya kembali tampil di ajang terbesar ini setelah penantian panjang, menjadi salah satu negara dengan tingkat antusiasme pendukung yang sangat tinggi. Namun di balik euforia tersebut, muncul kekhawatiran terkait harga tiket dan sistem penjualan yang dinilai cukup rumit.
FIFA menerapkan sistem undian sebagai tahap awal pembelian tiket. Para penggemar diwajibkan mendaftar dalam periode tertentu, lalu menunggu hasil seleksi untuk mengetahui apakah mereka berhak membeli tiket pertandingan yang diinginkan. Skema ini dimaksudkan agar distribusi tiket lebih adil, namun banyak fans mengaku tetap kesulitan mendapatkan tiket, terutama untuk laga yang melibatkan tim favorit.
Masalah lain yang banyak disorot adalah harga tiket. Untuk pertandingan fase grup saja, biaya yang harus dikeluarkan dinilai jauh lebih tinggi dibanding edisi Piala Dunia sebelumnya. Harga melonjak lebih signifikan lagi jika memasuki fase gugur, bahkan menjadi beban besar bagi suporter yang ingin mengikuti perjalanan timnya dari awal hingga akhir turnamen.
Kondisi tersebut diperparah dengan maraknya penjualan kembali tiket secara resmi dengan harga yang jauh lebih mahal dari nilai awal. Situasi ini memicu kekecewaan di kalangan pendukung, karena tiket yang seharusnya terjangkau justru berubah menjadi barang premium. Banyak fans Skotlandia merasa bahwa sistem ini kurang ramah bagi suporter setia yang telah menunggu puluhan tahun untuk kembali menyaksikan negaranya tampil di Piala Dunia.
Meski demikian, minat untuk hadir langsung di stadion tetap sangat tinggi. Para penggemar disarankan untuk berhati-hati, memahami tahapan penjualan dengan baik, serta menyiapkan anggaran sejak dini. Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang pengalaman sekali seumur hidup yang ingin dirasakan langsung oleh para pendukung setia.
.webp)








0 Komentar